Selasa, 21 Maret 2023

Manusia Tembok - BAB 1

Suasana pagi yang cerah membuka hari, namun tidak untuk seorang gadis yang masih terlena dalam alam mimpinya.  


Tiba-tiba, terdengar suara panggilan "NATHASYA....!" (dari seorang wanita paruh baya yang sudah sejak tadi mencoba membangunkannya.) 


"Eemhh..." jawabnya seraya masih menikmati kehangatan selimutnya. "Sudah siang, nanti kamu akan terlambat di hari pertama sekolah, loh?" tegur wanita itu sambil menarik selimut dari sang empunya. "Hah.. Iya iya, Natha bangun kok, ma," jawabnya seraya bangkit dari kasurnya. 


"Nak, ayo buruan siap-siap dong dan turun ke bawah untuk sarapan." Ujar mama Nia sambil meninggalkan kamar. 


Nathasya segera bersiap-siap dan menuju kamar mandi untuk memulai aktivitasnya. Setengah jam kemudian, Nathasya turun ke bawah untuk bergabung dengan Papa dan Mama yang sudah menunggu di meja makan.

 

"Selamat pagi, Papa, Mama.." sapa Nathasya. 


"Pagi, sayang. Ayo, duduk dan sarapan segera," ajak Papa Doni. 


"Sudahkah kamu mengecek semua keperluan sekolahmu, sayang?" tanya Mama Nia. 


"Sudah, Mama. Natha sudah disiapkan dari beberapa hari yang lalu," jawab Nathasya.


Setelah menikmati sarapan selama 15 menit, Nathasya pun segera bergegas pamit kepada orangtuanya. Perjalanan menuju sekolah baru memakan waktu sekitar 30 menit. 


Nathasya meminta untuk dipindahkan ke SMAN Garuda karena sebuah alasan yang masih membekas di hatinya hingga kini.


Sesampainya di sekolah, Nathasya segera memarkirkan mobil sport merahnya di tempat parkir dan keluar dari mobil. 


Sorak-sorai siswa-siswi yang memperhatikannya dengan penuh rasa penasaran langsung menyambut kedatangannya.


"Wow, itu murid baru ya?"


"Cantik sekali! lihat kulitnya, putih dan mulus!" ucap beberapa siswa.


Namun Nathasya tampak cuek dengan sambutan yang hangat tersebut, Nathasya adalah seorang gadis yang cuek dan tidak perduli. 


Para murid di sekolah tak dapat mengabaikan kehadirannya begitu saja. Ketika pertama kali bertemu dengannya, mereka sama-sama terkesima oleh pesona yang dipancarkan oleh Nathasya.


Beruntung, di sekolah ini tersedia papan penunjuk arah yang membantu Nathasya menemukan tujuannya tanpa harus bertanya pada siapa pun.

"Salam kenal, saya Nathasya," ucapnya dengan tegas ketika bertemu dengan kepala sekolah. 

Sang kepala sekolah menyambutnya dengan ramah.


"Oh, kamu murid baru ya? Silakan masuk." ucap kepala sekolah.


Kemudian, kepada sekolah meminta bantuan salah satu guru untuk menunjukkan kelas Nathasya yaitu XI IPA 2.


"Baik pak, mari nak." Ucap salah satu guru.


Sesampainya di depan pintu kelas, Ibu Siska mempersilakan Nathasya untuk masuk. Terlihat jelas kehebohan di dalam kelas, tetapi begitu Ibu Siska dan Nathasya masuk, semua orang seketika terdiam. 


"Ibu Siska membawa teman baru, mari kita berikan sambutan hangat untuk Nathasya," ujar salah satu murid dengan antusiasme. 


Dengan ekspresi wajah yang datar Nathasya memperkenalkan dirinya nama saya adalah Nathasya Putri Aprilia singkat dan lugas. Namun, suaranya terdengar jelas dan tegas, membuat semua siswa di dalam kelas terkesima.


"Senyum dong, cantik," ucap sang murid dengan nada lembut.


Saat Ibu Siska memerintahkan untuk memulai pelajaran, Nathasya langsung menuruti perintah tersebut dan ia duduk di bangku kosong di belakang kelas. Dia terlihat cuek dan fokus pada dirinya sendiri, tanpa tertarik untuk berteman dengan siapapun. 


Setelah dua jam pelajaran yang cukup melelahkan, bel istirahat akhirnya berbunyi. Namun, Natasha tetap setia pada kursinya, memejamkan matanya dan beristirahat sejenak. 


Tiba-tiba, tiga siswa dari kelas XI IPA 3 masuk ke dalam kelas dan duduk di sebelah Nathasya. Mereka mencoba untuk memulai percakapan dengan Nathasya, tetapi Nathasya tetap cuek dan tidak terlalu tertarik untuk sekedar mengobrol bahkan wajahnya tampak datar. 


Namun, lambat laun Natasha mulai merespon dengan mereka. Dia terlihat cool, tetapi dengan cara yang unik dan menarik sehingga membuat siswa siswi tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.


"Eh Nath lu kok kesini tanpa ngasih kabar dulu?" tanya Devita. 


"Orang lain di sini teriak-teriak eh malah dia adem ayem aje," celetuk Ayuda. 


"noh percuma kita ngoceh ga akan pernah denger dia." Ucap Devita menunjuk telinga Nathasya yang mengenakan earphone. celetuk Via.


Seketika tangan Via menarik earphone-nya, 


YAAKKK NATHASYA... 


Via yang memiliki kesabaran setipis tisu itupun berteriak hingga tiga oktaf dan membuat semua orang terkejut. Nathasya pun hanya menyahut dengan ekspresi wajah yang datar. 


"Berisik." ucap Nathasya dengan wajah datarnya.


Dia tidak peduli dengan komentar atau candaan orang lain. ucap Nathasya dengan wajah datarnya.


"Yah orang dari tadi kita bertiga udah ngoceh sampai berbusa lo nya malah diem aje. ucap Ayuda kesal.


"Apaaa...?" ucap Nathasya dengan wajah datar.


Ayo ke kantin gw dah lapar. ucap Ayuda seraya mengajaknya pergi ke kantin. 


Namun, Nathasya tidak menghiraukan ucapan sahabat nya Devita pun menarik tangan Nathasya sambil mengajak Via dan Ayunda.


"Yuk, kita pergi!" seru mereka.


Setelah masuk ke kantin, semua mata tertuju pada empat gadis cantik yang baru saja memasuki kantin, dipimpin oleh Nathasya yang tetap mempertahankan sikap dingin dan cuek meski pesonanya sangat menarik. Rambut panjang bergelombang Nathasya jatuh ke belakang, bulu mata lentik, dan kulitnya putih seperti salju.


"Ayunda Putri Shafira, si cantik dengan wajah bulat yang imut."


"Devita Christiani Febby, dengan rambut panjang setengah punggung yang diikat bergelombang di ujungnya."

"Via Annas Ningrum, yang memiliki penampilan tomboy tetapi tetap anggun di mata kaum Adam."


Mereka dulu berteman saat masih di SMP, namun Nathasya memilih sekolah yang berbeda dari mereka. Meskipun begitu, komunikasi di antara mereka tetap terjaga hingga akhirnya Natasha memutuskan untuk pindah dan bergabung di sekolah yang sama dengan mereka.


Mereka semua adalah putri dari para pengusaha terkenal di Indonesia, yang membuat mereka menjadi pusat perhatian di sekolah. Namun, ketenaran dan kekayaan tidak mengubah persahabatan mereka yang erat dan solid.


Mereka berempat bukan hanya manis dan kaya raya. Tetapi juga memiliki kemampuan bela diri yang tidak bisa dianggap remeh, karena semuanya memegang sabuk hitam di semua jenis bela diri. Jadi, siapa pun yang mengusik mereka, bisa-bisa menghadapi sisi psikopatik mereka yang menakutkan dan mematikan.


Nathasya memilih tempat duduk di ujung, jauh dari keramaian dan kebisingan karena ia tidak suka keramaian. Hal ini membuat teman-temannya ikut duduk sana.


"Mau makan apa?" tanya Ayunda.


"Nasgor sama es jeruk aja deh," celetuk Devita.


"Samain aja," timpal Via.


"Lu Nath?" Tanya Ayunda.


Nathasya tampak melirik Via dan itu di fahami oleh Ayuda.


"Oke tunggu sebentar". ucap Ayuda lalu bergegas memesankan makanan.


Nathasya pun kembali memejamkan matanya sambil duduk bersandar, baginya tidak ada yang menarik untuk dilihat.


Saat mereka menunggu pesanan, tiba-tiba seluruh orang di kantin heboh dan berteriak histeris karena sekelompok pria memasuki kantin. Mereka terlihat garang dan menakutkan, dan semua orang mulai berlarian untuk menghindari mereka.


Nathasya merasa terganggu dan membuka matanya. Ia melihat sekilas apa yang terjadi hingga matanya bertemu dengan pria yang memiliki sorot mata tajam bagaikan elang dan wajah yang tanpa ekspresi. Nathasya merasa bahwa mereka saling bertatap mata dalam waktu yang singkat, hingga akhirnya pria itu pergi dengan gaya cool nya.


Ayunda kembali ke tempat duduk dengan membawa makanan yang mereka pesan. "Eh ada apa nih ribut-ribut?" tanya Ayunda sembari menaruh makanan di meja.


"Itu manusia batu kutub utara dateng". ucap Devita sinis.


"Oh pantes bikin heboh 1 Indonesia". celetuk Devita.

Namun, Natasha tetap diam dan tak menghiraukan obrolan mereka. Matanya masih tertutup, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Nath lo tau gak geng THE BOYS?" tanya via.


Nathasya pun menelan sesuap nasi, yang menandakan ia tidak tau.


"Devid Samuel, si ketua geng, terkenal dengan sifatnya yang dingin dan tanpa ekspresi sejak pertama kali melangkah ke sekolah itu". 


"Dimas Pamungkas, tak kalah dingin dari David, tapi memiliki karisma yang sulit diabaikan"


"Bayu Pratama, pemilik lesung pipi dan senyum termanis di antara mereka".


"Bima Pradipta, dia itu kocak saat lagi bercanda tapi dia akan sangat mengintimidasi lawan saat sedang serius.". ucap Devita 


Sedangkan Nathasya tampak malas dengan penjelasan sahabat nya tersebut, ia tidak suka suasana yang ramai dan berisik seperti ini.


Nathasya pun melangkahkan kakinya menuju ke kelas karrena, baginya, ketenangan adalah seperti oksigen yang ia butuhkan untuk bisa hidup. Dan di ikuti oleh tiga sahabat nya.


This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon