Nathasya pun berjalan meninggalkan kantin dengan muka tanpa ekspresi yang diikuti oleh sahabat nya.
"Berapa lama lagi Nathasya akan seperti ini?" ucap Ayuda pada Devita dan Via sambil menghela nafas panjang.
"Mungkin dia masih butuh waktu," celetuk Devita.
"Semoga suatu hari nanti Nathasya yang dulu bisa kembali lagi," ucap Via sambil memperhatikan Nathasya yang semakin menjauh dari pandangan mereka.
Sementara itu, di tempat lain sekelompok pria tampan sedang menikmati makanan mereka masing-masing.
Tak sengaja, Devid memperhatikan seorang gadis yang keluar dari kantin.
Bayu yang menyadari David terdiam dalam lamunannya, mengganggu pikirannya dengan merangkul lengannya dan berteriak, "DAVID!".
David terkejut dari lamunannya, menolehkan kepala dengan tatapan kosong.
"Kenapa sih lu dari tadi melamun terus?" tanya Bayu yang penasaran.
David hanya diam dan bangkit dari duduknya dengan tiba-tiba, "Cabut.." ucap David lalu pergi begitu saja.
"Itu anak kenapa dah? Ditanya malah kabur," gumam Bayu heran.
"Kesambet setan sumur tua kali ya,, mangkanya jadi sawan" celetuk Bima santai.
"Mulut lu kalo ngomong.." ucap Bayu sengit, sambil melemparkan tisu ke arah Bima, merespons santai ucapan Bima sebelumnya tentang kesambet.
"Nih ya, lu kan yang nanya, terus gue jawab. Eh, salah lagi," balas Bima dengan nada kesal.
Dimas, yang juga turut mendengar perdebatan mereka, hanya bisa menggelengkan kepala menghadapi tingkah dua sahabat-sahabatnya itu.
Tiba-tiba, bel pulang berbunyi keras. Kringgg.. Kringgg.. Kringgg.. Para siswa mulai bersiap-siap untuk pulang dan berhamburan meninggalkan kelas untuk segera pulang..
Saat pelajaran usai, siswa-siswa sudah berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumah. Namun, Nathasya, yang tak suka kerumunan, masih menikmati kesunyian kelas.
Devita, Via dan Ayunda mendatangi kelas Nathasya mencoba membangkitkan semangatnya untuk pergi.
"Nath lu gak mau pulang udah sepi nih." ucap Ayuda.
Nathasya hanya mengangguk setuju. Mereka berempat berjalan keluar kelas dan menuju mobil masing-masing di parkiran sekolah. Namun, saat teman-temannya pulang ke rumah masing-masing.
Nathasya memilih pergi ke sebuah pemakaman yang jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kota. Sambil membawa beberapa tangkai bunga mawar merah yang baru saja dibelinya di jalan. Dia mengunjungi pemakaman dan duduk di samping sebuah nisan yang bertuliskan nama Dika Pradipta.
Dika adalah pria yang pernah mengisi hidup Nathasya dengan banyak warna, tetapi di suatu malam yang gelap dan hujan deras, Dika mengendarai mobilnya dan mengalami kecelakaan maut dengan truk yang melaju kencang di arah berlawanan.
Nathasya sangat terpukul dengan kehilangan itu dan hampir saja depresi. Namun, di samping nisan Dika, Nathasya merasa tenang dan duduk termenung sambil memegang tangkai bunga mawar merah yang dibeli di jalan tadi.
Bunga itu menjadi saksi bisu cinta yang pernah dirasakan Nathasya pada Dika. Kini hanya tinggal kenangan manis yang tersisa dalam hati Nathasya dan rindu yang semakin mendalam di setiap detik yang berlalu. Nathasya mengambil sebuah buku harian dan mulai menulis kembali di dalamnya, mencurahkan perasaannya yang terpendam dalam setiap baris kalimat yang ia tuliskan. Bagi Nathasya, menulis adalah satu-satunya cara untuk melepaskan beban hatinyaa dan meredakan rasa sakit yang mendera. Ia terus menulis hingga matahari terbenam dan malam pun datang.
Nathasya pun beranjak dari duduknya ia bergegas menuju rumah setelah kepergian Dika, Nathasya merasa kehilangan yang sangat besar dalam hidupnya. Ia merasa sepi dan hampa tanpa kehadiran sang kekasih di sisinya. Meski sudah berusaha untuk move on, namun rasa sakit itu tetap ada dan sulit untuk dihilangkan.
Setelah 30 menit Nathasya pun sampai di rumah ia menuju ke kamarnya dan langsung merebahkan diri di kasurnya seraya memejamkan mata, Nathasya merasa sulit untuk menerima kenyataan bahwa Dika telah meninggalkannya selamanya. Ia sering kali teringat akan kenangan indah bersama Dika dan setiap kali itu terjadi, rasa sedih dan kehilangan kembali menyelimuti hatinya.
Walaupun Dika telah pergi, Nathasya tidak akan pernah melupakan kenangan indah bersama sang kekasih. Ia akan terus memelihara kenangan tersebut dalam hatinya.
Keesokan harinya...
"Pagi sayang..." sapa mama Nia seraya menatap Putrit unggalnya tersebut.
"Iyah ma, Natha capek banget semalem ketiduran jadi gak ikut makan malam bareng mama papa." ucap Nathasya
"Yaudah kamu mandi terus sarapan mama tunggu dimeja makan yah,," ucap mama Nia sambil menyiapkan makanan dimeja makan.
"Iyah ma" ucap Nathasya.
sekali-kali Mama Nia melihat putrinya terpuruk dalam kesedihan yang mendalam. Nathasya baru saja kehilangan kekasihnya. Betapa beratnya beban yang harus dipikul oleh Putri Tunggal itu. Namun, ia memilih untuk menutup diri dan menyimpan perasaannya sendiri.
Mama Nia berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan luka hati putrinya, namun semua upayanya sia-sia karena Natasha enggan membuka diri. Di balik kesedihan yang menyelimuti keluarga itu, Mama Nia tetap mencoba memberikan dukungan dan kenyamanan kepada putrinya yang sedang terpuruk. Ia tahu betul bahwa hanya dengan saling mendukung dan berbagi, mereka bisa melewati masa-masa sulit tersebut.
Mama Nia merasa sedih dan tak bisa berbuat banyak untuk membantu putrinya yang sedang terpuruk dalam kepedihan. Namun, ia tetap berusaha untuk memberikan dukungan dan perhatian kepada Nathasya.
Wangi harum dari sarapan pagi yang mama Nia buat membuat Nathasya merasa sedikit lebih baik. Mama Nia menyajikan sarapan pagi itu dengan rapi di atas meja makan dan Nathasya mulai menikmati makanannya dengan perlahan.
Bersambung...
