Jumat, 24 Maret 2023

Manusia Tembok - BAB 2

Nathasya pun berjalan meninggalkan kantin dengan muka tanpa ekspresi yang diikuti oleh sahabat nya. 


"Berapa lama lagi Nathasya akan seperti ini?" ucap Ayuda pada Devita dan Via sambil menghela nafas panjang. 


"Mungkin dia masih butuh waktu," celetuk Devita. 


"Semoga suatu hari nanti Nathasya yang dulu bisa kembali lagi," ucap Via sambil memperhatikan Nathasya yang semakin menjauh dari pandangan mereka. 


Sementara itu, di tempat lain sekelompok pria tampan sedang menikmati makanan mereka masing-masing. 


Tak sengaja, Devid memperhatikan seorang gadis yang keluar dari kantin. 


Bayu yang menyadari David terdiam dalam lamunannya, mengganggu pikirannya dengan merangkul lengannya dan berteriak, "DAVID!". 

David terkejut dari lamunannya, menolehkan kepala dengan tatapan kosong. 


"Kenapa sih lu dari tadi melamun terus?" tanya Bayu yang penasaran. 


David hanya diam dan bangkit dari duduknya dengan tiba-tiba, "Cabut.." ucap David lalu pergi begitu saja.

 

"Itu anak kenapa dah? Ditanya malah kabur," gumam Bayu heran. 


"Kesambet setan sumur tua kali ya,, mangkanya jadi sawan" celetuk Bima santai.


"Mulut lu kalo ngomong.." ucap Bayu sengit, sambil melemparkan tisu ke arah Bima, merespons santai ucapan Bima sebelumnya tentang kesambet. 


"Nih ya, lu kan yang nanya, terus gue jawab. Eh, salah lagi," balas Bima dengan nada kesal. 


Dimas, yang juga turut mendengar perdebatan mereka, hanya bisa menggelengkan kepala menghadapi tingkah dua sahabat-sahabatnya itu. 


Tiba-tiba, bel pulang berbunyi keras. Kringgg.. Kringgg.. Kringgg.. Para siswa mulai bersiap-siap untuk pulang dan berhamburan meninggalkan kelas untuk segera pulang.. 


Saat pelajaran usai, siswa-siswa sudah berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumah. Namun, Nathasya, yang tak suka kerumunan, masih menikmati kesunyian kelas.


Devita, Via dan Ayunda mendatangi kelas Nathasya mencoba membangkitkan semangatnya untuk pergi.


"Nath lu gak mau pulang udah sepi nih." ucap Ayuda.


Nathasya hanya mengangguk setuju. Mereka berempat berjalan keluar kelas dan menuju mobil masing-masing di parkiran sekolah. Namun, saat teman-temannya pulang ke rumah masing-masing.


Nathasya memilih pergi ke sebuah pemakaman yang jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kota. Sambil membawa beberapa tangkai bunga mawar merah yang baru saja dibelinya di jalan. Dia mengunjungi pemakaman dan duduk di samping sebuah nisan yang bertuliskan nama Dika Pradipta.


Dika adalah pria yang pernah mengisi hidup Nathasya dengan banyak warna, tetapi di suatu malam yang gelap dan hujan deras, Dika mengendarai mobilnya dan mengalami kecelakaan maut dengan truk yang melaju kencang di arah berlawanan. 


Nathasya sangat terpukul dengan kehilangan itu dan hampir saja depresi. Namun, di samping nisan Dika, Nathasya merasa tenang dan duduk termenung sambil memegang tangkai bunga mawar merah yang dibeli di jalan tadi. 


Bunga itu menjadi saksi bisu cinta yang pernah dirasakan Nathasya pada Dika. Kini hanya tinggal kenangan manis yang tersisa dalam hati Nathasya dan rindu yang semakin mendalam di setiap detik yang berlalu. Nathasya mengambil sebuah buku harian dan mulai menulis kembali di dalamnya, mencurahkan perasaannya yang terpendam dalam setiap baris kalimat yang ia tuliskan. Bagi Nathasya, menulis adalah satu-satunya cara untuk melepaskan beban hatinyaa dan meredakan rasa sakit yang mendera. Ia terus menulis hingga matahari terbenam dan malam pun datang.


Nathasya pun beranjak dari duduknya ia bergegas menuju rumah setelah kepergian Dika, Nathasya merasa kehilangan yang sangat besar dalam hidupnya. Ia merasa sepi dan hampa tanpa kehadiran sang kekasih di sisinya. Meski sudah berusaha untuk move on, namun rasa sakit itu tetap ada dan sulit untuk dihilangkan.


Setelah 30 menit Nathasya pun sampai di rumah ia menuju ke kamarnya dan langsung merebahkan diri di kasurnya seraya memejamkan mata, Nathasya merasa sulit untuk menerima kenyataan bahwa Dika telah meninggalkannya selamanya. Ia sering kali teringat akan kenangan indah bersama Dika dan setiap kali itu terjadi, rasa sedih dan kehilangan kembali menyelimuti hatinya.


Walaupun Dika telah pergi, Nathasya tidak akan pernah melupakan kenangan indah bersama sang kekasih. Ia akan terus memelihara kenangan tersebut dalam hatinya.


Keesokan harinya...

"Pagi sayang..." sapa mama Nia seraya menatap Putrit unggalnya tersebut.


"Iyah ma, Natha capek banget semalem ketiduran jadi gak ikut makan malam bareng mama papa." ucap Nathasya 

"Yaudah kamu mandi terus sarapan mama tunggu dimeja makan yah,," ucap mama Nia sambil menyiapkan makanan dimeja makan.


"Iyah ma" ucap Nathasya.


sekali-kali Mama Nia melihat putrinya terpuruk dalam kesedihan yang mendalam. Nathasya baru saja kehilangan kekasihnya. Betapa beratnya beban yang harus dipikul oleh Putri Tunggal itu. Namun, ia memilih untuk menutup diri dan menyimpan perasaannya sendiri.


Mama Nia berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan luka hati putrinya, namun semua upayanya sia-sia karena Natasha enggan membuka diri. Di balik kesedihan yang menyelimuti keluarga itu, Mama Nia tetap mencoba memberikan dukungan dan kenyamanan kepada putrinya yang sedang terpuruk. Ia tahu betul bahwa hanya dengan saling mendukung dan berbagi, mereka bisa melewati masa-masa sulit tersebut.


Mama Nia merasa sedih dan tak bisa berbuat banyak untuk membantu putrinya yang sedang terpuruk dalam kepedihan. Namun, ia tetap berusaha untuk memberikan dukungan dan perhatian kepada Nathasya.


Wangi harum dari sarapan pagi yang mama Nia buat membuat Nathasya merasa sedikit lebih baik. Mama Nia menyajikan sarapan pagi itu dengan rapi di atas meja makan dan Nathasya mulai menikmati makanannya dengan perlahan.

Bersambung...

Selasa, 21 Maret 2023

Manusia Tembok - BAB 1

Suasana pagi yang cerah membuka hari, namun tidak untuk seorang gadis yang masih terlena dalam alam mimpinya.  


Tiba-tiba, terdengar suara panggilan "NATHASYA....!" (dari seorang wanita paruh baya yang sudah sejak tadi mencoba membangunkannya.) 


"Eemhh..." jawabnya seraya masih menikmati kehangatan selimutnya. "Sudah siang, nanti kamu akan terlambat di hari pertama sekolah, loh?" tegur wanita itu sambil menarik selimut dari sang empunya. "Hah.. Iya iya, Natha bangun kok, ma," jawabnya seraya bangkit dari kasurnya. 


"Nak, ayo buruan siap-siap dong dan turun ke bawah untuk sarapan." Ujar mama Nia sambil meninggalkan kamar. 


Nathasya segera bersiap-siap dan menuju kamar mandi untuk memulai aktivitasnya. Setengah jam kemudian, Nathasya turun ke bawah untuk bergabung dengan Papa dan Mama yang sudah menunggu di meja makan.

 

"Selamat pagi, Papa, Mama.." sapa Nathasya. 


"Pagi, sayang. Ayo, duduk dan sarapan segera," ajak Papa Doni. 


"Sudahkah kamu mengecek semua keperluan sekolahmu, sayang?" tanya Mama Nia. 


"Sudah, Mama. Natha sudah disiapkan dari beberapa hari yang lalu," jawab Nathasya.


Setelah menikmati sarapan selama 15 menit, Nathasya pun segera bergegas pamit kepada orangtuanya. Perjalanan menuju sekolah baru memakan waktu sekitar 30 menit. 


Nathasya meminta untuk dipindahkan ke SMAN Garuda karena sebuah alasan yang masih membekas di hatinya hingga kini.


Sesampainya di sekolah, Nathasya segera memarkirkan mobil sport merahnya di tempat parkir dan keluar dari mobil. 


Sorak-sorai siswa-siswi yang memperhatikannya dengan penuh rasa penasaran langsung menyambut kedatangannya.


"Wow, itu murid baru ya?"


"Cantik sekali! lihat kulitnya, putih dan mulus!" ucap beberapa siswa.


Namun Nathasya tampak cuek dengan sambutan yang hangat tersebut, Nathasya adalah seorang gadis yang cuek dan tidak perduli. 


Para murid di sekolah tak dapat mengabaikan kehadirannya begitu saja. Ketika pertama kali bertemu dengannya, mereka sama-sama terkesima oleh pesona yang dipancarkan oleh Nathasya.


Beruntung, di sekolah ini tersedia papan penunjuk arah yang membantu Nathasya menemukan tujuannya tanpa harus bertanya pada siapa pun.

"Salam kenal, saya Nathasya," ucapnya dengan tegas ketika bertemu dengan kepala sekolah. 

Sang kepala sekolah menyambutnya dengan ramah.


"Oh, kamu murid baru ya? Silakan masuk." ucap kepala sekolah.


Kemudian, kepada sekolah meminta bantuan salah satu guru untuk menunjukkan kelas Nathasya yaitu XI IPA 2.


"Baik pak, mari nak." Ucap salah satu guru.


Sesampainya di depan pintu kelas, Ibu Siska mempersilakan Nathasya untuk masuk. Terlihat jelas kehebohan di dalam kelas, tetapi begitu Ibu Siska dan Nathasya masuk, semua orang seketika terdiam. 


"Ibu Siska membawa teman baru, mari kita berikan sambutan hangat untuk Nathasya," ujar salah satu murid dengan antusiasme. 


Dengan ekspresi wajah yang datar Nathasya memperkenalkan dirinya nama saya adalah Nathasya Putri Aprilia singkat dan lugas. Namun, suaranya terdengar jelas dan tegas, membuat semua siswa di dalam kelas terkesima.


"Senyum dong, cantik," ucap sang murid dengan nada lembut.


Saat Ibu Siska memerintahkan untuk memulai pelajaran, Nathasya langsung menuruti perintah tersebut dan ia duduk di bangku kosong di belakang kelas. Dia terlihat cuek dan fokus pada dirinya sendiri, tanpa tertarik untuk berteman dengan siapapun. 


Setelah dua jam pelajaran yang cukup melelahkan, bel istirahat akhirnya berbunyi. Namun, Natasha tetap setia pada kursinya, memejamkan matanya dan beristirahat sejenak. 


Tiba-tiba, tiga siswa dari kelas XI IPA 3 masuk ke dalam kelas dan duduk di sebelah Nathasya. Mereka mencoba untuk memulai percakapan dengan Nathasya, tetapi Nathasya tetap cuek dan tidak terlalu tertarik untuk sekedar mengobrol bahkan wajahnya tampak datar. 


Namun, lambat laun Natasha mulai merespon dengan mereka. Dia terlihat cool, tetapi dengan cara yang unik dan menarik sehingga membuat siswa siswi tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.


"Eh Nath lu kok kesini tanpa ngasih kabar dulu?" tanya Devita. 


"Orang lain di sini teriak-teriak eh malah dia adem ayem aje," celetuk Ayuda. 


"noh percuma kita ngoceh ga akan pernah denger dia." Ucap Devita menunjuk telinga Nathasya yang mengenakan earphone. celetuk Via.


Seketika tangan Via menarik earphone-nya, 


YAAKKK NATHASYA... 


Via yang memiliki kesabaran setipis tisu itupun berteriak hingga tiga oktaf dan membuat semua orang terkejut. Nathasya pun hanya menyahut dengan ekspresi wajah yang datar. 


"Berisik." ucap Nathasya dengan wajah datarnya.


Dia tidak peduli dengan komentar atau candaan orang lain. ucap Nathasya dengan wajah datarnya.


"Yah orang dari tadi kita bertiga udah ngoceh sampai berbusa lo nya malah diem aje. ucap Ayuda kesal.


"Apaaa...?" ucap Nathasya dengan wajah datar.


Ayo ke kantin gw dah lapar. ucap Ayuda seraya mengajaknya pergi ke kantin. 


Namun, Nathasya tidak menghiraukan ucapan sahabat nya Devita pun menarik tangan Nathasya sambil mengajak Via dan Ayunda.


"Yuk, kita pergi!" seru mereka.


Setelah masuk ke kantin, semua mata tertuju pada empat gadis cantik yang baru saja memasuki kantin, dipimpin oleh Nathasya yang tetap mempertahankan sikap dingin dan cuek meski pesonanya sangat menarik. Rambut panjang bergelombang Nathasya jatuh ke belakang, bulu mata lentik, dan kulitnya putih seperti salju.


"Ayunda Putri Shafira, si cantik dengan wajah bulat yang imut."


"Devita Christiani Febby, dengan rambut panjang setengah punggung yang diikat bergelombang di ujungnya."

"Via Annas Ningrum, yang memiliki penampilan tomboy tetapi tetap anggun di mata kaum Adam."


Mereka dulu berteman saat masih di SMP, namun Nathasya memilih sekolah yang berbeda dari mereka. Meskipun begitu, komunikasi di antara mereka tetap terjaga hingga akhirnya Natasha memutuskan untuk pindah dan bergabung di sekolah yang sama dengan mereka.


Mereka semua adalah putri dari para pengusaha terkenal di Indonesia, yang membuat mereka menjadi pusat perhatian di sekolah. Namun, ketenaran dan kekayaan tidak mengubah persahabatan mereka yang erat dan solid.


Mereka berempat bukan hanya manis dan kaya raya. Tetapi juga memiliki kemampuan bela diri yang tidak bisa dianggap remeh, karena semuanya memegang sabuk hitam di semua jenis bela diri. Jadi, siapa pun yang mengusik mereka, bisa-bisa menghadapi sisi psikopatik mereka yang menakutkan dan mematikan.


Nathasya memilih tempat duduk di ujung, jauh dari keramaian dan kebisingan karena ia tidak suka keramaian. Hal ini membuat teman-temannya ikut duduk sana.


"Mau makan apa?" tanya Ayunda.


"Nasgor sama es jeruk aja deh," celetuk Devita.


"Samain aja," timpal Via.


"Lu Nath?" Tanya Ayunda.


Nathasya tampak melirik Via dan itu di fahami oleh Ayuda.


"Oke tunggu sebentar". ucap Ayuda lalu bergegas memesankan makanan.


Nathasya pun kembali memejamkan matanya sambil duduk bersandar, baginya tidak ada yang menarik untuk dilihat.


Saat mereka menunggu pesanan, tiba-tiba seluruh orang di kantin heboh dan berteriak histeris karena sekelompok pria memasuki kantin. Mereka terlihat garang dan menakutkan, dan semua orang mulai berlarian untuk menghindari mereka.


Nathasya merasa terganggu dan membuka matanya. Ia melihat sekilas apa yang terjadi hingga matanya bertemu dengan pria yang memiliki sorot mata tajam bagaikan elang dan wajah yang tanpa ekspresi. Nathasya merasa bahwa mereka saling bertatap mata dalam waktu yang singkat, hingga akhirnya pria itu pergi dengan gaya cool nya.


Ayunda kembali ke tempat duduk dengan membawa makanan yang mereka pesan. "Eh ada apa nih ribut-ribut?" tanya Ayunda sembari menaruh makanan di meja.


"Itu manusia batu kutub utara dateng". ucap Devita sinis.


"Oh pantes bikin heboh 1 Indonesia". celetuk Devita.

Namun, Natasha tetap diam dan tak menghiraukan obrolan mereka. Matanya masih tertutup, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Nath lo tau gak geng THE BOYS?" tanya via.


Nathasya pun menelan sesuap nasi, yang menandakan ia tidak tau.


"Devid Samuel, si ketua geng, terkenal dengan sifatnya yang dingin dan tanpa ekspresi sejak pertama kali melangkah ke sekolah itu". 


"Dimas Pamungkas, tak kalah dingin dari David, tapi memiliki karisma yang sulit diabaikan"


"Bayu Pratama, pemilik lesung pipi dan senyum termanis di antara mereka".


"Bima Pradipta, dia itu kocak saat lagi bercanda tapi dia akan sangat mengintimidasi lawan saat sedang serius.". ucap Devita 


Sedangkan Nathasya tampak malas dengan penjelasan sahabat nya tersebut, ia tidak suka suasana yang ramai dan berisik seperti ini.


Nathasya pun melangkahkan kakinya menuju ke kelas karrena, baginya, ketenangan adalah seperti oksigen yang ia butuhkan untuk bisa hidup. Dan di ikuti oleh tiga sahabat nya.